Senin, 20 Februari 2012

MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

0 komentar

I.            Pendahuluan

Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya untuk menyempurnakan dua perspektif yang telah berlaku di awal abad 20, yaitu perspektif strukturalis dari Wundt dan psikologi fungsionalis dari Dewey.1
Perspektif strukturalis percaya akan perlunya penelitian dasar yang mempelajari tentang otak manusia dan tidak percaya pada penelitian-penelitian aplikatif yang menggunakan binatang untuk dirampatkan kepada manusia, terutama tentang cara kerja otak manusia.
Perspektif strukturalis cenderung berwawasan sangat sempit (mikro), sedangkan psikologi fungsionalis berwawasan sangat luas (makro). Para ahli psikologi fungsionalis menyatakan perlu kajian tentang perilaku, tentang fungsi proses mental, dan hubungan antara proses mental dan tubuh manusia. Namun dengan keluasanya, psikologi fungsionalis dirasakan menjadi kurang fokus dan tidak terorganisasi dengan baik.
Berangkat dari keterbatasan perspektif strukturalis dan psikologi fungsionalis, John B. Watson memulai upayanya untuk mengkaji perilaku, terlepas dari proses mental dan lain-lain. Watson percaya bahwa, semua makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui respons. Asumsi inilah yang menjadi landasan dasar dari teori belajar behaviorisme selanjutnya.
Aliran perilaku tentang belajar kemudian menjadi sangat populer di awal abad ke-20, karena dianggap sederhana dan terpercaya (selalu dapat diuji ulang).
Secara umum, teori behavioristik merupakan salah satu aliran psikologis yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmani dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar hanya melatih reflek-reflek sedemekian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.2
Prinsip-prinsip teori behaviorisme :
1.      Objek psikologi adalah tingkah laku.
2.      Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek.
3.      Mementingkan pembentukan kebiasaan.




                                                              
II.         Pembahasan

A.    IVAN PETROVICH PAVLOV (1849-1936)
Classical Conditoning dikemukakan oleh Pavlov yang kemudian dipelopori oleh Guthrie, Skinner yang berhaluan behavioris. Pavlov mengadakan eksperimen disebut condition reflexes karena yang dipelajari adalah gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi pada suatu perangsang tertentu.1
Pavlov menyimpulkan bahwa pertanda dapat memainkan peranan penting dalam adaptasi hewan terhadap sekitarnya. Reaksi mengeluarkan air liur pada anjing karena mengamati pertanda mula-mula disebut reflek bersyarat (conditional reflexes). Pertanda atau signal disbut perangsang bersyarat (conditional stimulus). Teori ini menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya netral. Melalui persinggungan stimulus dengan respons, stimulus yang tidak menimbulkan respon tadi akhirnya menimbulkan respons.
Implikasi teori belajar ini dalam pendidikan adalah :
1.      Tingkah laku guru mengharapkan murid hafal secara mekanis / otomatis.
2.      Verbalitas karena tingkah laku mechanistis dan reflektif.
3.      Guru membiasakan muridnya dengan latihan.
4.      Sekolah duduk, tidak ada inisiatif karena perasaan, pikiran tak mengarah tingkah laku.
5.      Guru hanya memberi tugas tanpa disadari muridnya.
6.      Guru tidak memperhatikan individual differences.
7.      Guru mengguanakan learning by part.
8.      Guru hanya menyuapi murid dan murid hanya menerima.


B.     EDWARD L. THORNDIKE (1874-1949)
Dasar-dasar Conenectionism (Teori Stimulus-Respons) dari Thorndike diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan akal dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.1
Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar adalah asosiasi antara kesan panca indera dengan impulse untuk bertindak. Bentuk belajar oleh Thorndike disifatkan dengan trial and error learning atau learning by selecting and connecting.
Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu :
1.      Dalil Sebab Akibat (law of effect)
Menyatakn bahwa situasi atau hasil yang menyenangkan yang diperoleh dari suatu respons akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respons atau perilaku yang dimunculkan. Sementara itu, situasi atau hasil yang tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan tersebut.
2.      Dalil Latihan/Pembiasaan (law of exercise)
Menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian, pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar.
3.      Dalil Kesiapan (law of readiness)
Menyatakan kondisi-kondisi yang dianggap mendukung dan tidak mendukung permunculan respons. Jika siswa sudah siap (sudah belajar sebelumnya) maka ia akan siap untuk memunculkan suatu respons atas dasar stimulus/kebutuhan yang diberikan. Hal ini merupakan kondisi yang menyenangkan bagi siswa dan akan menyempurnakan pemunculan respons. Sebaliknya, jika siswa tidak siap untuk memunculkan respons atas stimulus yang diberikan atau siswa merasa terpaksa memberi respons maka siswa mengalami kondisi yang tidak menyenangkan yang dapat memperlemah pemunculan respons.
Kesimpulan Thorndike tentang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang dikenal dengan proses transfer of learning atau perampatan proses belajar. Thorndike mengemukakan bahwa latihan yang dilakukan dan proses belajar yang terjadi dalam mempelajari suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seseorang terhadap konsep lain yang sejenis atau mirip (associative shifting). Teori connectionism ini dikenal sebagai teori belajar yanmg pertama.


C.    IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Konsep stimulus diterapkan dalam proses pembelajaran dalam bentuk penjelasan tentang tujuan, ruang lingkup dan relevansi pembelajaran, dan dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu, konsep respons diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes dan atau ujian setelah meteri disajikan, atau hasil karya siswa setelah prosedur pembuatan karya disampaikan.1
Proses interaksi stimulus dan respons diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang bervariasi. Misalnya penyajian materi melalui contoh, diskusi, kerja laboratorium, permainan dengan menggunakan media. Proses pengkondisian juga melibatkan konsep penguatan yang diterapkan dalam bentuk pujian dan atau hukuman guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja siswa. Kreativitas guru dalam memanipulasi proses pengkondisian membantu siswa secara positif dalam proses pembelajaran.



























III.     Kesimpulan

Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya penyempurnaan terhadap perspektif tentang cara manusia belajar, dimana menurut teori ini belajar merupakan perubahan tingkah laku manusia yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.1
Teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Yang sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi.
Teori classical conditioning dari Pavlov didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisidalam diri seseorang serta gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali.
Connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang hanya dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.















Daftar Pustaka

Falay. Implementasi Teori Belajar.
Waluyo, Adi. Diktat Kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran.
Winataputra, Udin S, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

Leave a Reply

Labels